untitled

Dental Information

Menyelami Dunia Kedokteran Gigi Indonesia

Terus Bagaimana...

Terus, sebagai pasien, harus bagaimana, protes, marah-marah, menuntut ganti rugi atau menyerah begitu saja? Anda bisa memilih. Menuntut, bila hal itu melegakan hati Anda memang bisa dilakukan, tapi biasanya tidak melegakan hati di kedua belah pihak. Yang paling asik tentunya melakukan kompromi, mencari sebab apa kiranya yang membuat perawatan gagal, apakah dari pemakaian gigi dengan tambalan sebelum waktunya, atau pengeburan oleh dokter gigi yang kurang, dan mencari solusi dari harga yang harus dibayar kemudian, pada perawatan ulang ini. Hal menarik yang bisa dikatakan bahwa ternyata pasien umumnya enggan menuntut dokter gigi yang simpatik dan berlaku ramah dan baik kepadanya. Jadi meskipun akhirnya perawatan mungkin kurang memuaskan, mereka secara sukarela menerima kekurangan tersebut dan tidak terlalu menuntut.

Sebelum terlanjur menyesal, ada kiat pasien untuk mempersiapkan diri sebelum berobat, yakni:

Satu.    Pilih dokter gigi yang Anda percaya. Secara psikologis Anda cocok. Entah karena dia termasuk dokter gigi yang berwibawa, cuek, ramah, tegas, terlihat pintar atau gaul banget…pilih yang cocok dengan Anda. Kalau Anda cocok, maka setidaknya Anda akan bisa mempercayainya.

Dua.    Persiapkan fisik tubuh Anda dengan baik. Bila ada sedikit –atau sedang- kuman yang membandel, maka alih-alih Anda bergantung hanya pada proses mekanis pembersihan saja, Anda bisa bergantung pada mekanisme tubuh dalam melawan penyakit. Bila ketahanan tubuh kurang karena stress, sakit, lemah, lesu, tak berdaya, maka back-up energi yang dipakai untuk penyembuhan gigi menjadi kurang karena energinya teralih untuk mengoptimalkan kondisi tubuh.

Tiga.    Ingat, dokter gigi itu manusia biasa yang bisa saja salah. Jadi jangan lupa untuk meminta kesembuhan pada-Nya.

Empat. Bila Anda sudah sembuh, jangan pingsan lagi karena tagihan dari dokter gigi.

 

 

Referensi :

  1. Walton and Torabinejad, Edisi Kedua, Lampiran Anatomi Pulpa dan Preparasi Akses;  Molar Pertama Atas Kanan, Penerbit EGC:1997 hal 699
  2. Gawande, Atul, Komplikas;, Ketika Dokter Berbuat Salah, Penerbit Serambi: 2003, hal 64-94

 

Drg C.Maulani©310806

INFO untuk PASIEN

GARANSI

 

Dok, tambalan saya copot. Padahal baru saja pasang. Kenapa sih Dok? Sebel saya, makanya saya gak balik ke dokter gigi itu lagi. Sekarang tambal lagi ya Dok, yang bagus dan jangan cepet copot. Garansi yah Dok..?

 

 

            Garansi dalam dunia kedokteran dan kedokteran gigi bisa dikatakan mustahil. Kenapa demikian? Ilmu kedokteran tidak bisa menjanjikan kepastian, yang mereka bisa janjikan hanyalah proses.

Jadi ada 5 hasil yang harus diterima setelah berobat. 1. Sembuh 2. Sembuh dengan komplikasi  3. Sembuh dengan sequele (gejala sisa) 4. Tidak Sembuh  5. Meninggal.

            Meski bidang kedokteran gigi tidak se-ekstrim bidang kedokteran secara umum, namun karena bagian integral dari konsep medis, tetap saja kemungkinan dari 5 hal tersebut di atas ada. Contohnya komplikasi cabut gigi, atau kanker di rongga mulut, bisa memungkinkan untuk mencapai taraf sembuh atau yang ekstrim, meninggal.

            Menambal gigi pun bisa timbul keluhan. Memang ada kemungkinan salah diagnosa, salah memilih bahan tambal, kurang dalam preparasi (menyiapkan gigi tempat bahan tambal akan diletakkan) atau kurang tepat dalam mengatur komposisi bahan tambal. Tapi tak jarang lepasnya bahan tambal karena pasien tidak mematuhi aturan yang diberikan, misalnya bahan tambal tertentu tidak boleh langsung digunakan untuk makan, karena kekerasannya belum maksimal, sehingga pecah jika menerima tekanan berat sebelum waktunya, atau dalam pengerjaannya sulit karena lidah tidak bisa diam sehingga tempat penambalan terkena air ludah, maka bahan tambal tidak bisa melekat dengan baik pada gigi. Ada pula pasien yang memaksa untuk langsung tambal tetap, meskipun diagnosa belum bisa ditegakkan dengan tepat, karena pasien sangat sibuk, tidak punya waktu untuk bolak-balik. Akibatnya bila ternyata diagnosa berlanjut ke peradangan pulpa, mau tidak mau pulpa harus dirawat terlebih dahulu. Tambalan bagaimanapun keren-nya terpaksa harus dibongkar ulang.

            Pada Perawatan Saluran Akar, pasien juga sering mengeluh karena tidak bisa sekali kunjungan selesai. Tapi memang tidak ada garansi seseorang bisa selesai perawatan dengan 2 atau 3 kali kunjungan. Siapa bisa menduga pada kunjungan kedua pasien jatuh sakit sehingga daya tahan menurun dan penyembuhan pada Perawatan Saluran Akar lambat dan rasa sakit menetap? Yang patut dicatat adalah kasus setiap orang berbeda. Si A bisa selesai perawatan dalam 2 kali kunjungan, si B malah bisa dalam one visit treatment, sementara si C harus bolak-balik 5 kali…Tidak ada dokter gigi bisa menebak apakah seseorang bisa mempunyai saluran akar normal, sebab ada dokter gigi hanya bisa menaksir berdasarkan prosentase.

Contoh, gigi geraham atas kanan mempunyai 3 saluran akar, dengan prosentasenya 38%. Sedangkan ada sekitar 60% gigi mempunyai 4 saluran akar. Itu baru dari segi jumlah, belum dari segi bentuk saluran akar. Ada yang megar seperti huruf Y, ada yang mingkup seperti huruf O, ada yang menyatu besar di atas, dan mengecil di ujung. Siapa yang bisa mengira? Lho kan bisa lihat di foto roentgen?

Betul. Saluran akar bisa dilihat di foto roentgen, tapi pernah tidak pasien mengira bahwa lain sudut pemotretan bisa lain hasil. Dua saluran akar yang bertumpuk bisa terlihat seperti satu saluran akar. Akar yang pendek, dengan salah sudut pengambilan foto bisa menyebabkan ‘elongasi’ atau akar menjadi terlihat panjaaaang…

            Jadi gimana doong…Apa dokter itu ilmu kira-kira? Dokter bekerja berdasarkan ilmu pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah, berdasarkan pengalaman yang diajarkan di klinik dan juga berdasarkan pengalaman yang terus menerus ditimba setiap hari di ruang praktek setelah keluar dari institusi pendidikan. Namun dalam praktek yang begitu luas terbuka kemungkinan lebih dari 1001 macam kasus, bukan tidak mungkin diagnosa yang ditegakkan, kurang tepat atau salah. Kesalahan pada dokter gigi juga tidak menutup mata terhadap fakta, ada.

Menurut Kajian Praktek Kedokteran Harvard, dan diterbitkan di New England Journal of Medicine tahun 1991, ditemukan bahwa 4 persen pasien yang mengalami komplikasi sehingga lebih lama dirawat, berakibat cacat atau kematian ternyata dua pertiga dari semua komplikasi terjadi akibat kesalahan dalam pelayanan medis. Satu dari empat pasien atau 1 persen dari semua pasien mengalamai kelalaian sejati. Jadi kebenaran inti bahwa semua dokter pasti pernah melakukan kesalahan.

Namun ada satu ajang tempat dokter dapat membahas segala kesalahan secara jujur, meskipun bukan dengan pasien, setidaknya antara sesama mereka, dalam suatu konfrensi yang membahas semua kesalahan, kejadian yang tidak diharapkan, kematian yang terjadi dalam pengamatan, menetapkan penanggungjawabnya dan memutuskan apa yang harus diperbaiki dalam kesempatan berikutnya.

Bagaimana kalau pasien menuntut? Pasien memang bisa menuntut tapi penelitian membuktikan bahwa upaya hukum tidak dapat mengurangi kesalahan medis. Dan ternyata pun, hanya 2 persen pasien yang menerima layanan dibawah standar mutu yang mengajukan tuntutan.

Bila dokter berbuat kesalahan, alasan apapun tidak bisa membuat hatinya tenang, dengan adanya norma dan tanggung jawab pribadi. Upaya apa pun yang dilakukan dokter memang kadang-kadang lemah, tidaklah wajar kalau ia dituntut untuk sempurna. Yang patut adalah meminta para dokter untuk tidak putus-putusnya berusaha menuju kesempurnaan.

Ambliopia

Pernah denger tentang mata malas nggak..Lho apa hubungannya dengan gigi? Hehe..tidak ada, kali ini saya hanya sedikit ingin membahas mengenai mata malas. Mata malas atau bahasa kerennya lazy eyes (ampliopia) adalah mata yang tidak berfungsi, jadi disebut malas. Tidak berfungsinya biasanya karena mata tersebut tidak bisa melihat dengan baik. Salah satunya karena minus yang terlalu besar, sementara mata satunya normal. Akibatnya yang berfungsi adalah satu mata yang normal, sedangkan mata satunya 'dibiarkan' tidak melihat..habis burem sih.

Karena tidak ada (sedikit) gambar masuk melalui mata tersebut, maka sel-sel saraf yang menerima gambar pun, tidak berfungsi. Lama kelamaan sel yang tidak dipakai bisa mati. Biasanya kelainan ini terjadi saat pembentukan janin di dalam perut, sehingga bola mata kiri dan kanan tidak sama. Kekurangan mata yang tidak sempurna diimbangi oleh mata yang sempurna, akibatnya mata yang tidak sempurna, kelalinannya makin parah.

Menurut dr Salamun SpM, 20% anak SD mempunyai kelainan mata. Jadi dengan penyaringan umum anak-anak SD, kelainan mata secara dini bisa terdeteksi. Ambliopia bila ditangani dini akan memberikan hasil lebih baik, karena bila terlambat sel-sel penerima gambar di mata akan lebih banyak yang rusak. Usia 4 tahun termasuk usia yang baik untuk ditangani. Sedangkan usia lebih besar dari itu tetap dapat diterapi namun membutuhkan kesabaran dan sukur-sukur tidak 'terlambat.'

Terapi Ambliopia termasuk khusus, demikian pula pendeteksiannya. Dr Salamun SpM termasuk ahli dalam bidang ambliopia. Beliau mempunyai cara khusus untuk menangani penderita ini beserta alat yang harus dipakai. Kacamata terapi yang menjadi alat bantu mata untuk mendapatkan gambar, harus dibuat dengan ketelitian khusus, sehingga anak yang memakainya tidak merrasa minder dengan ketebalan kaca matanya dan tidak pusing akibat bayangan yang diterima mata tidak tepat.

Terapi ambliopia dapat berlangsung seumur hidup. Dengan ketelatenan dan kerjasama yang baik, kecacatan mata ini dapat diperbaiki. Bila mata sudah dapat melihat dengan baik, maka pasien tidak lagi bergantung pada satu mata saja untuk sepanjang hidupnya.

Drg C.Maulani

Artikel Lalu

Sekarang ini bila Anda ke Puskesmas di Jakarta, mungkin akan disodori surat informed consent untuk ditandatangani, terutama pada Puskesmas dengan standar ISO. Apa sih surat inform consent ini. Kenapa pasien diminta tanda tangannya?
Baca selengkapnya di :


INFORMED CONSENT

Artikel lain simak pula :


BAU MULUT

ORTHOGNATI

FAQ


***

Ternyata.....

Sepotong makanan manis dapat menimbulkan 12 menit kerusakan gigi..

 -John Besford, DDS-

***


Report Content · · Web Hosting · Blog · Guestbooks · Message Forums · Mailing Lists
Easiest Website Builder ever! · Build your own toolbar · Free Talking Character · Email Marketing
powered by a free webtools company bravenet.com