untitled

DENTISTRY STUFF ŕORTHODONTI

 

 

ORTHOGNATI

 

Dalam senyum seseorang, kadangkala terlihat pas, cantik, menarik atau sepertinya ada yang kurang. Artikel Senyum Ideal menggambarkan sedikit rumus yang membuat orang dinilai punya senyum yang cantik.

Sedangkan senyum yang dinilai kurang menarik contohnya gummy smile, yakni gusi banyak terlihat saat tersenyum. Bahkan gigi yang terlihat pendek (karena tertutup gusi), bila dibuka gusinya sedikit, maka gigi bisa kelihatan lebih panjang dan cantik. Gummy smile terjadi karena perkembangan rahang atas dalam arah vertikal yang melebihi normal. Meski secara estetis hal ini bisa diabaikan, namun secara kesehatan gusi ini menjadi mudah meradang, sakit, merah dan mudah berdarah (gingivitis).

Perkembangan rahang yang ‘lebih’ juga dapat mengakibatkan mulut sulit terkatup. Bila ingin mengatupkan bibir maka harus menggunakan seluruh otot diseputar bibir. Dan dalam posisi bibir santai atau istirahat, maka gigi akan terlihat.

Beberapa kriteria ideal dalam lingkup orthodonti, dirumuskan dengan serius, sebab merubah bentuk dan penampilan wajah seseorang tentunya untuk merujuk ke arah wajah yang ideal. Persepsi Ideal ini ditentukan oleh media massa, wajah-wajah orang-orang yang dianggap menarik, yang senyumnya asik dan diharapkan jalan hidupnya kemudian juga akan lebih baik dengan penampilan ideal seperti mereka.

 

Kriteria senyum yang ideal dalam orthodonti antara lain ditentukan oleh:

 

Garis Tengah

 

Garis atau Midline ditarik diantara kedua alis, melalui hidung dan tengah-tengah filtrum (filtrum adalah lekukan di bawah hidung, tepat diatas bibir atas). Bila garis tengah wajah juga tepat segaris dengan tengah-tengah antara gigi seri pertama depan atas dan gigi seri pertama depan bawah, maka senyum Anda bisa terlihat asik.

 

Garis Senyum

 

Garis Senyum atau smile arc, merupakan garis yang ditarik dari ujung-ujung gigi atas (dari gigi taring kiri ke ujung taring kanan) saat tersenyum, garis itu idealnya sejajar dengan lengkung bibir bawah (Frush and Fisher). Hal lain seperti yang sudah dibahas dalam Senyum Ideal yang juga dikemukakan oleh Frush and Fisher adalah adanya ruang gelap diantara lengkung gigi terluar saat tersenyum dan bagian sebelah dalam pipi. Meski pendapat ini dibantah oleh ahli yang lain bernama Hulsey, yang katanya space ini gak ngaruh secara signifikan untuk senyum ideal. Bila giginya rata, tidak lengkung seperti garis bibir bawah, maka senyum akan terlihat datar (kenyataannya 40% seusai perawatan orthodonti senyum menjadi datar). Dan bila lengkung garis gigi berlawanan dengan lengkung bibir, maka akan menjadi senyum ‘terbalik’.

 

Bentuk, Arah dan Warna Gigi

 

Bentuk gigi umumnya mengikuti bentuk wajah. Bila wajah oval, maka bentuk gigi umumnya oval, bila wajah persegi, giginya persegi. Oleh karena itu dalam pembuatan film yang merubah wanita menjadi laki-laki misalnya, pemakaian gigi palsu penting untuk menyesuaikan pertukaran jenis kelamin itu. Sebab bila penampilan sudah dibuat macho, tapi bentuk giginya kecil-kecil, oval, feminin, kan tidak cocok.

Arah gigi, ditentukan dari sumbu gigi (mahkota dan akar). Bila arah gigi sejajar terhadap garis tengah wajah, maka senyum menjadi ideal. Namun bila gigi miring, maka sumbu gigi tidak sejajar dengan garis tengah wajah. Makanya mungkin serasa ada yang kurang dalam senyum itu.

Warna gigi yang putih, juga melihat senyum lebih terang dan alhasil, wajah kelihatan lebih muda dan cerah.

 

E-line

 

E diartikan untuk estetis, line garis, jadi garis estetis. Garis ini dilihat dari profil wajah, arah samping. Seperti di film-film, kalau orang dipenjara ada foto sisi depan, ada foto sisi samping. Nah, foto sisi samping itu bisa ditarik garis dari titik puncak hidung, ke titik puncak dagu. Sudut-sudut tertentu merupakan batasan normal profil yang disebut cantik dan ideal. Jadi kalau melihat foto versi samping, kita bisa menilai apakah profil itu lurus, cembung atau cekung. Cembung bila Rahang Atas lebih maju dari Rahang Bawah (protrusi). Cekung bila Rahang Atas lebih mundur dari Rahang Bawah (retrusi). Mana profil yang cantik? Ya..yang lurus..

 

Gambar Normal Profil Samping Wajah

 

Gambar Ukuran Normal Profil Wajah

 

Jadi bila setelah membaca artikel ini Anda bertanya-tanya, apa muka saya ideal atau tidak. Ambil spidol..eh jangan langsung coret2 wajah. Tapi ambil foto Anda, pas foto ya, jangan yang lagi gaya miring-miring, foto tampak depan dan tampak samping. Yang sedang serius, jangan sedang senyum-senyum. Setelah itu tetap terbungkus plastiknya foto, tarik garis-garis ideal. Garis tengah wajah. Foto samping juga begitu. Ukur dengan busur derajat, sudut garis puncak bibir atas-titik dagu terdepan dengan garis lurus titik pangkal hidung-puncak bibir atas. Batasan normal itu kisarannya adalah 10 derajat.

Bila tidak ideal dan Anda ingin terlihat ideal, maka Anda bisa mulai merencanakan untuk meratakan gigi, bila berantakan, dan bisa juga bedah orthognati untuk memperbaiki bentuk rahang. Hari gini, wajah juga bisa dipermak euy..!

 

Apa sih gunanya merubah wajah?

 

Wajah itu karunia Tuhan. Manusia barangkali tidak direncanakan untuk merubah wajah yang sudah diberi secara spesial, khusus, sejak lahir. Lain daripada yang lain, kecuali kembar tentunya.

Namun, tidak dipungkiri, orang melihat, dan menilai itu dari kesan pertama penampilan diri, dari senyum yang pertama dilemparkan. Setelah itu kenalan, baru orang tau jeroan Anda. Maksudnya kepribadian, kepandaian dan lain-lain.

Penilaian ini bisa benar, bisa juga salah. Tapi sedihnya, meski benar pun, tingkah laku orang itu spontan keluar dari bawah sadar melalui penilaian sesaat (bahkan dari penelitian Malcom Gladwell dikatakan, hanya butuh 2 detik untuk menilai). 2 detik yang menentukan itu bisa membuat kita down bila orang tidak ‘setuju’ terhadap penampilan kita.

Dalam tingkatan biasa-biasa, ada orang bersikap, ‘Terserah elu mau bilang apa, gue seneng kok berpenampilan begini.’ Artinya bila dia mau, bisa berpenampilan menarik, namun bila tidak sedang mood, berpenampilan seenaknya. Tapi secara dasar, wajahnya normal, dia dapat ber-bunglon ria, tanpa orang merasa sebal.

Namun dalam tingkatan ekstrim, dimana penampilan wajah kurang menarik dan tidak bisa ditutupi dengan baju atau asesoris, orang bisa mengurung diri, enggan bergaul, tidak bisa berkomunikasi secara baik, mundur dari aktifitas normal, bahkan bisa menjadi depresi dan bunuh diri.

Dalam penelitian terhadap penampilan, orang yang berpenampilan kurang rapi, wajah menyeramkan, cenderung mudah ‘dituduh’ melakukan kejahatan, daripada wajah tak berdosa. Wah kalau sudah tingkatan itu, tidak ada orang yang siap untuk selalu ‘dituduh’ dalam penilaian dua detik pertama. Kenalan aja belum.

Contohnya, wanita yang mempunyai dagu panjang, dan rahang bawah cenderung lebih maju daripada rahang atas, dia sering dituduh ‘sedang marah’. Padahal tidak. Memang wajahnya menyiratkan seperti itu, padahal tidak. Coba saja ditanya. Tapi siapa mau bertanya pada orang yang sepertinya marah.

Itulah pentingnya seorang ahli bedah rahang, atau istilah kerennya Orthognati. Ilmu bedah rahang merupakan gabungan dari ilmunya dokter gigi, ahli ortho dan ahli bedah mulut. Dan dalam pelaksanaan bedahnya dibantu oleh dokter anestesi.

Kembali lagi pada cerita tadi, ternyata orthognati bisa membantu banyak orang, meningkatkan rasa percaya diri, mengembalikannya kembali normal dalam lingkup sosial pergaulan. Bagi pelajar, nilainya bisa lebih baik, karena interaksinya dengan guru dan teman-temannya baik. Bagi yang belum punya pasangan, maka dia akan lebih cepat punya pasangan, bagi yang ingin bekerja, lebih mudah diterima dalam lingkungan pekerjaan. Bedah orthognati bisa membantu banyak orang, namun sayangnya masih untuk kalangan terbatas orang-orang yang memiliki uang.

 

Instant Make Over

 

Saat ini ada kecenderungan orang seneng yang cepat-cepat saja. Makan cepat, kendaraan cepat, kerja cepat, berubah menjadi menarik, inginnya cepat.

Karena menariknya fenomena cepat, sekarang banyak acara dengan kemasan ‘cepat’. Bedah Rumah, merubah rumah jelek, secara cepat, jadi rumah bagus. Orang tidak punya uang, secara ‘cepat’ tiba-tiba jadi punya uang banyak. Mau jadi penyanyi, pelawak, dai..sekarang bisa cepat dengan publisitas digenjot habis.

Nah untuk mengimbangi status sosial yang cepat berubah itu, orangnya pun perlu perubahan penampilan secara tiba-tiba. Je jreeeeng… Tiba-tiba semua orang pangling…aduuh..kamu lain deh.

Meski sering pula spontanitas orang yang dirubah penampilannya, mengatakan, I don’t know who I am..atau It isn’t me..

Terlepas dari perubahan personalitas seseorang, perubahan instant dalam dunia kedokteran gigi ada batasannya.

Contohnya, kasus Instant Make Over di program televisi luar negeri, calon pesertanya itu dinilai dulu oleh seorang dokter gigi. Orang-orang yang lulus dalam kriteria bisa ‘dirubah secara kilat’, baru bisa mengikuti test-test selanjutnya dalam bidang lain.

Misalnya gigi yang berantakan, bisa dirapikan dengan alat orthodonti as long as..giginya sehat, bebas periodontitis.. Sedangkan pada kasus-kasus berat, perubahan gigi saja tidak cukup, melainkan juga harus mengubah struktur rahang dengan suatu bedah orthognati.

Pemutihan gigi pun, punya kriteria tertentu. Gigi yang sensitif, gingivitis atau periodontitis, atau banyak karies, tidak bisa begitu saja diputihkan. Bila giginya sehat, tidak ada keluhan, hanya kurang putih, nah itu baru langsung bisa dilakukan pemutihan gigi atau bleaching.

Jadi itulah instant make over, meski bisa dilaksanakan, namun dalam kenyataannya memiliki keterbatasan.

Bila Anda bukan artis, tidak perlu buru-buru, kenapa juga harus instant. Perubahan diri menjadi lebih baik bisa juga dilaksanakan tahap demi tahap. Sekarang giginya dirapikan, sambil belajar padu padan busana. Busana beres, belajar menata rambut. Setelah itu baru belajar make up wajah. Orang disekeliling Anda juga tidak kaget, jadi tidak perlu ada pertanyaan seperti, “Eh, siape sih elu?”

 

Referensi :

Manhar Parekh, Sanjay; Fields, Henry W.; Beck, Michael; Rosenstiel, Stephen; Attractiveness of Variations in the Smile Arc and Buccal Corridor Space as Judged by Orthodontists and Laymen, The Angle Orthodontist: Vol. 76, No. 4, pp. 557–563

 

 

CM©1052006